Senin, 30 Juli 2012



“mak…aku takut mak..dingin mak…bapak mana???”
“sabar ya nak,,bapak lagi cari duit”
“aku pengen pulang mak..”
“Argggggh” lagi-lagi mimpi ini menghampiriku, kutengok ke arah jam di meja samping tempat tidurku menunjukkan pukul tiga dini hari. Sama seperti kemarin, kemarin, dan kemarinnya lagi. Aku terbangun dari tidur karena mimpi yang sama pada jam yang sama, jam tiga dini hari. Mimpi yang tak mampu ku mengerti apa artinya dan aku tak mengenal siapa orang yang ada dalam mimpiku itu. Siapa ibu dan anak itu?? Aku sangat yakin aku tidak mengenalnya. Tapi kenapa mereka selalu hadir dalam mimpi malamku?? Kenapa selalu tepat jam tiga pagi aku terbangun dari mimpiku?? Pertanyaan-pertanyaan ini sangat menyesakkan kepalaku beberapa hari ini. Aku  mencoba untuk tak peduli, namun ketidak pedulianku hanya mampu kuucap saja karna hatiku selalu bertanya padaku dan juga otakku yang selalu berpikir apa arti semua ini. “Oh Tuhan, aku terlalu bodoh untuk mengartikan ini semua”.
Di kantor, pikiranku masih saja dibayangi pertanyaan-pertanyaan tentang mimpi aneh beberapa malam belakangan ini. Wajah anak dan ibu dalam mimpi itu benar-benar terekam jelas olehku.
 “Pagi Ardi …” suara Pak Agus membuyarkan lamunanku di kursi direktur utama perusahaan besar ini. Pak Agus adalah manajer perusahaan yang almarhum ayah wariskan padaku ini. Semenjak ayah meninggal, aku menjadi pemimpin perusahaan ini. Pak Agus adalah orang kepercayaan ayah semasa ia memimpin perusahaan ini, dan seperti ayah juga, aku menjadikan Pak Agus kaki tangan dalam menjalankan bisnis perusahaan.
“Oh,,Pak Agus,,silahkan duduk pak.” Kataku sedikit terkaget.
 Pak Agus menutup pintu lalu tersenyum dan mendekat ke meja saya sambil membawa berkas-berkas laporan.
 “Karna ini sebuah prestasi besar perusahaan ini, saya membawa sendiri berkas laporan pembebasan lahan rencana pembangunan apartemen mewah di daerah Jalan Merah , silahkan ditanda tangani Ardi,” kata pak Agus dengan nada suara bangganya.
 Tanpa membaca berkas tersebut karna aku  malas, selain itu aku sangat percaya dengan Pak Agus, akupun menanda tanganinya.
Lalu Pak Agus menepuk pundakku dan berkata “ayah kamu pasti bangga!!” lalu ia permisi dan meninggalkan ruangan saya.
Setelah jam istirahat makan siang, aku memutuskan untuk pulang karna pikiranku benar-benar lelah. Aku ingin menenangkan diri di rumah. Dengan diantar sopir pribadi, mobilku keluar dari pintu gerbang perusahaan namun mobilku berhenti karna ada seorang ibu dengan menggendong anaknya lewat di depan mobilku. Sambil berjalan pandangannya menatap ke arah tulisan besar nama perusahaanku. Aku rasa aku mengenali wajah ibu itu. Tapi kapan? Dimana? Aku coba memutar otak dan menggali seluruh memori di dalamnya. Kemudian saat ibu itu mulai menyebrang jalan anak dalam gendongannya menatap ke arah mobilku dan jantungkupun serasa berhenti saat menatap wajah anak itu dan aku sangat yakin, yah !! mereka adalah orang-orang dalam mimpi anehku !!
“Berhenti pak !!!” teriakku kepada Kardi sopir pribadi saya. Tanpa peduli pertanyan Kardi aku  keluar dari mobil dan segera berjalan mengikuti  ibu dan anak itu. Aku tak tahu apa yang akan kulakukan, otakku seperti mati,  tubuhku seperti terus bergerak sendiri.  Dengan berjalan hampir berlari, aku mulai mendekat ke arah ibu yang menggendong anak itu. Namun aku terhenti setelah  beberapa meter di belakang ibu itu. Tiba-tiba rasa takut dan ragu menghampiriku. Apa yang akan kukatakan padanya. Akhirnya kuputuskan saja mengikutinya.
Panas, debu, rasa haus tak menghentikan langkahku mengikuti ibu itu berjalan, Kuikuti ia berjalan di trotoar, menyebrang jalan, menyebrang rel, memasuki gang, terus kuikuit ia. Akhirnya aku sampai di sebuah gedung bekas terbakar, ibu itu pun masuk. Aku berhenti di depan gedung itu, apa yang harus kulakukan sekarang?
Setelah beberapa menit ku diam di depan gedung itu, akhirnya kuputuskan untuk masuk ke gedung itu. Aku sedikit terkejut melihat banyak sekali orang di dalam gedung itu. Tempat ini seperti pengungsian yang sering aku lihat dalam berita di TV dan merekapun sepertinya juga terkejut melihatku, mungkin karna penampilanku yang sangat berbeda dengan mereka, aku satu-satunya orang yang mengenakan jas di sini. Aku terus mencari dimana ibu itu berada dan akhirnya kutemukan dia sedang duduk beralaskan kardus dan anknya tertidur disampingnya. Seperti yang lainnya ibu itu juga menatap tajam ke arahku. Kulangkahkan kakiku menuju ibu itu namun langkahku terhenti saat ada seorang laki-laki berkata, “apa anda akan mengusir kami dari sini??”, dan orang itu berjalan kearahku.
“Tidak, aku hanya ingin bertemu ibu itu” lalu kulanjutkan langkahku menuju ibu itu. Ibu itu terlihat ketakutan dan segera mengangkat anaknya ke dalam pelukannya. “apa lagi salahku?”, ucap ibu itu. Setelah sampai didepan ibu itu akupun mengatur nafas lalu berjongkok di depan ibu itu.
“Apakah anda mengenal saya bu??”akhirnya aku mampu berkata
“Aaa..nnn..da siapa?”ucap ibu itu terbata-bata. Terlihat sekali bahwa ibu itu ketakutan.
“Nama saya Ardi bu, coba anda ingat-ingat.”ucapku sambil member senyum agar ibu itu tak takut padaku.
Ibu itu sesaat diam menatapku lalu memalingkan mukanya menatap ke atas dan kemudian mengeluarkan nafas panjang dan kemudian berkata, “entahlah, mungkin memang kita pernah bertemu dan saya lupa, karna semua kenangan saya rasanya telah terhapus oleh sebuah kenangan pahit lima hari yang lalu.
“Apa yang terjadi lima hari yang lalu?”tanyaku segera.
Tiba-tiba ibu itupun meneteskan air mata, ia tengok anaknya sebentar lalu menghadap kepadaku dan mulai bercerita, “namanya Ardi, saya sedikit terkaget tadi saat anda mengenalkan nama anda, tapi mungkin hanya kebetulan, umurnya lima tahun, dan bila nanti ia terbangun ia akan bertanya kapan bapaknya pulang, dan merengek minta pulang. Dan saya selalu menjawab dengan kebohongan karna saya tidak pernah sanggup menjelaskan padanya bahwa ayahnya takkan pulang lagi dan kami takkan bisa pulang ke rumah lagi.
“Apa yang terjadi pada ayahnya dan rumah anda?”aku semakin penasaran apa yang terjadi pada ibu itu.
Ibu itu menatapku lalu berkata, “lima hari lalu tepat jam tiga pagi rumah kami digusur dan suami saya meninggal saat itu karna mencoba melakukan perlawanan.”ibu tu kembali meneteskan air mata dan mempererat pelukan ke anaknya. Aku benar-benar terkejut mendengar cerita itu, jantungku berdetak sangat keras, keringat dingin terasa keluar dari tubuhku. Kepalaku serasa berputar cepat sekali. Jam tiga pagi?Apakah ini berkaitan dengan mimpiku? Apakah apa yang aku tanda tangani tadi di kantor adalah musibah ibu ini? Tapi aku mencoba menyangkal ini semua dengan bertanya, “dimana rumah ibu?”
“Di jalan Merah” jawabnya
  



Tidak ada komentar:

Posting Komentar