“mak…aku takut mak..dingin mak…bapak
mana???”
“sabar ya nak,,bapak lagi cari duit”
“aku pengen pulang mak..”
“Argggggh” lagi-lagi mimpi ini
menghampiriku, kutengok ke arah jam di meja samping tempat tidurku menunjukkan
pukul tiga dini hari. Sama seperti kemarin, kemarin, dan kemarinnya lagi. Aku
terbangun dari tidur karena mimpi yang sama pada jam yang sama, jam tiga dini
hari. Mimpi yang tak mampu ku mengerti apa artinya dan aku tak mengenal siapa
orang yang ada dalam mimpiku itu. Siapa ibu dan anak itu?? Aku sangat yakin aku
tidak mengenalnya. Tapi kenapa mereka selalu hadir dalam mimpi malamku?? Kenapa
selalu tepat jam tiga pagi aku terbangun dari mimpiku?? Pertanyaan-pertanyaan
ini sangat menyesakkan kepalaku beberapa hari ini. Aku mencoba untuk tak peduli, namun ketidak
pedulianku hanya mampu kuucap saja karna hatiku selalu bertanya padaku dan juga
otakku yang selalu berpikir apa arti semua ini. “Oh Tuhan, aku terlalu bodoh
untuk mengartikan ini semua”.
Di kantor, pikiranku masih saja
dibayangi pertanyaan-pertanyaan tentang mimpi aneh beberapa malam belakangan
ini. Wajah anak dan ibu dalam mimpi itu benar-benar terekam jelas olehku.
“Pagi Ardi …” suara Pak Agus membuyarkan
lamunanku di kursi direktur utama perusahaan besar ini. Pak Agus adalah manajer
perusahaan yang almarhum ayah wariskan padaku ini. Semenjak ayah meninggal, aku
menjadi pemimpin perusahaan ini. Pak Agus adalah orang kepercayaan ayah semasa
ia memimpin perusahaan ini, dan seperti ayah juga, aku menjadikan Pak Agus kaki
tangan dalam menjalankan bisnis perusahaan.
“Oh,,Pak Agus,,silahkan duduk pak.”
Kataku sedikit terkaget.
Pak Agus menutup pintu lalu tersenyum dan
mendekat ke meja saya sambil membawa berkas-berkas laporan.
“Karna ini sebuah prestasi besar perusahaan
ini, saya membawa sendiri berkas laporan pembebasan lahan rencana pembangunan
apartemen mewah di daerah Jalan Merah , silahkan ditanda tangani Ardi,” kata pak
Agus dengan nada suara bangganya.
Tanpa membaca berkas tersebut karna aku malas, selain itu aku sangat percaya dengan
Pak Agus, akupun menanda tanganinya.
Lalu Pak Agus menepuk pundakku dan
berkata “ayah kamu pasti bangga!!” lalu ia permisi dan meninggalkan ruangan
saya.
Setelah jam istirahat makan siang,
aku memutuskan untuk pulang karna pikiranku benar-benar lelah. Aku ingin
menenangkan diri di rumah. Dengan diantar sopir pribadi, mobilku keluar dari
pintu gerbang perusahaan namun mobilku berhenti karna ada seorang ibu dengan
menggendong anaknya lewat di depan mobilku. Sambil berjalan pandangannya
menatap ke arah tulisan besar nama perusahaanku. Aku rasa aku mengenali wajah
ibu itu. Tapi kapan? Dimana? Aku coba memutar otak dan menggali seluruh memori
di dalamnya. Kemudian saat ibu itu mulai menyebrang jalan anak dalam
gendongannya menatap ke arah mobilku dan jantungkupun serasa berhenti saat
menatap wajah anak itu dan aku sangat yakin, yah !! mereka adalah orang-orang
dalam mimpi anehku !!
“Berhenti pak !!!” teriakku kepada Kardi
sopir pribadi saya. Tanpa peduli pertanyan Kardi aku keluar dari mobil dan segera berjalan mengikuti
ibu dan anak itu. Aku tak tahu apa yang
akan kulakukan, otakku seperti mati, tubuhku
seperti terus bergerak sendiri. Dengan
berjalan hampir berlari, aku mulai mendekat ke arah ibu yang menggendong anak
itu. Namun aku terhenti setelah beberapa
meter di belakang ibu itu. Tiba-tiba rasa takut dan ragu menghampiriku. Apa
yang akan kukatakan padanya. Akhirnya kuputuskan saja mengikutinya.
Panas, debu, rasa haus tak
menghentikan langkahku mengikuti ibu itu berjalan, Kuikuti ia berjalan di
trotoar, menyebrang jalan, menyebrang rel, memasuki gang, terus kuikuit ia. Akhirnya
aku sampai di sebuah gedung bekas terbakar, ibu itu pun masuk. Aku berhenti di
depan gedung itu, apa yang harus kulakukan sekarang?
Setelah beberapa menit ku diam di
depan gedung itu, akhirnya kuputuskan untuk masuk ke gedung itu. Aku sedikit
terkejut melihat banyak sekali orang di dalam gedung itu. Tempat ini seperti
pengungsian yang sering aku lihat dalam berita di TV dan merekapun sepertinya
juga terkejut melihatku, mungkin karna penampilanku yang sangat berbeda dengan
mereka, aku satu-satunya orang yang mengenakan jas di sini. Aku terus mencari
dimana ibu itu berada dan akhirnya kutemukan dia sedang duduk beralaskan kardus
dan anknya tertidur disampingnya. Seperti yang lainnya ibu itu juga menatap
tajam ke arahku. Kulangkahkan kakiku menuju ibu itu namun langkahku terhenti
saat ada seorang laki-laki berkata, “apa anda akan mengusir kami dari sini??”,
dan orang itu berjalan kearahku.
“Tidak, aku hanya ingin bertemu ibu
itu” lalu kulanjutkan langkahku menuju ibu itu. Ibu itu terlihat ketakutan dan
segera mengangkat anaknya ke dalam pelukannya. “apa lagi salahku?”, ucap ibu
itu. Setelah sampai didepan ibu itu akupun mengatur nafas lalu berjongkok di
depan ibu itu.
“Apakah anda mengenal saya
bu??”akhirnya aku mampu berkata
“Aaa..nnn..da siapa?”ucap ibu itu
terbata-bata. Terlihat sekali bahwa ibu itu ketakutan.
“Nama saya Ardi bu, coba anda
ingat-ingat.”ucapku sambil member senyum agar ibu itu tak takut padaku.
Ibu itu sesaat diam menatapku lalu
memalingkan mukanya menatap ke atas dan kemudian mengeluarkan nafas panjang dan
kemudian berkata, “entahlah, mungkin memang kita pernah bertemu dan saya lupa,
karna semua kenangan saya rasanya telah terhapus oleh sebuah kenangan pahit
lima hari yang lalu.
“Apa yang terjadi lima hari yang lalu?”tanyaku
segera.
Tiba-tiba ibu itupun meneteskan air
mata, ia tengok anaknya sebentar lalu menghadap kepadaku dan mulai bercerita,
“namanya Ardi, saya sedikit terkaget tadi saat anda mengenalkan nama anda, tapi
mungkin hanya kebetulan, umurnya lima tahun, dan bila nanti ia terbangun ia
akan bertanya kapan bapaknya pulang, dan merengek minta pulang. Dan saya selalu
menjawab dengan kebohongan karna saya tidak pernah sanggup menjelaskan padanya
bahwa ayahnya takkan pulang lagi dan kami takkan bisa pulang ke rumah lagi.
“Apa yang terjadi pada ayahnya dan
rumah anda?”aku semakin penasaran apa yang terjadi pada ibu itu.
Ibu itu menatapku lalu berkata, “lima
hari lalu tepat jam tiga pagi rumah kami digusur dan suami saya meninggal saat
itu karna mencoba melakukan perlawanan.”ibu tu kembali meneteskan air mata dan
mempererat pelukan ke anaknya. Aku benar-benar terkejut mendengar cerita itu,
jantungku berdetak sangat keras, keringat dingin terasa keluar dari tubuhku. Kepalaku
serasa berputar cepat sekali. Jam tiga pagi?Apakah ini berkaitan dengan
mimpiku? Apakah apa yang aku tanda tangani tadi di kantor adalah musibah ibu
ini? Tapi aku mencoba menyangkal ini semua dengan bertanya, “dimana rumah ibu?”
“Di jalan Merah” jawabnya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar