BUANGLAH SAMPAH PADA TEMPATNYA
Kalian benar benar beruntung telah
memilih meninggalkanku. Keputusan yang sangat tepat telah kalian ambil waktu
itu. Ungkapan buanglah sampah pada tempatnya memang benar. Karena sampah ini
semakin lama semakin busuk dan bau. Meninggalkan aku di sini adalah keputusan
sisi logika bahwa hidup harus mencari kebahagiaan. Semakin hari aku semakin
menjijikkan, beruntunglah kalian tidak menyimpanku lagi karena busukku akan
meruang pada hari-hari kalian nantinya.
Dia telah meninggalkanku pada suatu
hari dimana perasaanku tentangnya adalah di atas segalanya. Aku telah
membutakan mataku dan menjadikan dia mataku, menulikan telingaku untuk
menjadikan dia telingaku, aku telah membisukan mulutku dan menjadikan dia
suaraku, entah ia sadar atau tak sadar tentang itu semua yang aku tahu pasti
dia malah memilih untuk pergi pada hari itu. Luka sayatan pun tercipta ketika
pisau yang sangat indah berukirkan janji dan bernama cinta ia tarik ketika
hatiku masih menggenggam pisau itu dan tak mau melepas. Mungkin baginya setelah
hari itu kisah tentang aku dan dia telah berakhir dan dia pun tidak menyadari
bahwa dia telah meniupkan garam ke lukaku yang masih basah ketika kabar tentang
penggantiku telah dia ikrarkan. Paragraf ini adalah untuk dia. Paragraf ini
adalah salah satu bau busuk yang keluar dari sampah ini. Tapi dia takkan pernah
khawatir karna dia telah membuang sampah ini pada tempatnya.
Dia yang lain adalah cerita yang
berbeda tapi mempunyai alur yang sama dan akhir yang sama hanya dengan durasi
yang berbeda. Dia yang lain telah membuatku mengambil keputusan mencongkel luka
lama untuk menanam namanya. Dan segala tingkah lakunya yang manja dan
menyenangkan membuatnya tumbuh subur dan cepat di hati ini. Akar tunggangnya
menancap dalam dan semakin dalam. Daun daunnya yang lebat meneduhkan hatiku.
Namun pada akhirnya pun sama, ketika musim begitu kering daun-daunnya pun mulai
kering dan dia pun tak ingin lagi tumbuh di hatiku. Pada suatu waktu, dia
memelukku, dia menciumku tetapi ternyata dia memintaku untuk mencabut pohon
yang akarnya tertancap dalam. Dengan segala keharusan, tanpa obat bius akupun
mencabutnya dari detikku, menitku, jamku, hariku. Setelah kami berakhir ternyata
angin tak menerbangkan dia jauh. Dia jatuh di sana dan tumbuh di sana, tak
jauh, tak lebih jauh dari mata memandang. Aku dapat melihatnya tumbuh subur di
sana. Aku dapat melihatnya padahal jika boleh memilih aku tak ingin melihatnya.
Paragraf ini adalah untuk dia yang lain. Paragraf ini adalah salah satu noda
kotor dari sampah ini. Tapi dia yang lain takkan pernah khawatir karna dia yang
lain telah membuang sampah ini pada tempatnya.
Dia yang ketiga adalah kisah yang tak
mampu dikisahkan. Huruf A-Z tak mampu kurangkai untuk mewakili bagaimana kisah
bermula dan bagaimana berakhir. Semua karena ketidaksadaranku pada waktu cinta
datang dan waktu cinta pergi. Hingga akhirnya aku merasakan kehilangan yang
sama. Pada akhirnya aku melangkahkan kakiku pada tempatku kembali, tempat
dimana sampah dibuang.
Bir aku tenggak setelah puas menarik
garis lurus antara tulisan buanglah sampah pada tempatnya yang tertera di
hadapanku dengan kehidupanku yang telah lalu. Aku adalah sampah tapi akupun
juga pernah mempunyai sampah yang telah kubuang. Sampah akan selalu ada setelah
kita menikmati sesuatu dan sampah akan selalu kita buang tanpa sentimentil
apapun. Mencintai seseorang lalu menjadikan seseorang itu sampah atau dicintai
lalu dijadikan sampah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar