Senin, 30 Juli 2012

buanglah sampah pada tempatnya


BUANGLAH SAMPAH PADA TEMPATNYA
Kalian benar benar beruntung telah memilih meninggalkanku. Keputusan yang sangat tepat telah kalian ambil waktu itu. Ungkapan buanglah sampah pada tempatnya memang benar. Karena sampah ini semakin lama semakin busuk dan bau. Meninggalkan aku di sini adalah keputusan sisi logika bahwa hidup harus mencari kebahagiaan. Semakin hari aku semakin menjijikkan, beruntunglah kalian tidak menyimpanku lagi karena busukku akan meruang pada hari-hari kalian nantinya.
Dia telah meninggalkanku pada suatu hari dimana perasaanku tentangnya adalah di atas segalanya. Aku telah membutakan mataku dan menjadikan dia mataku, menulikan telingaku untuk menjadikan dia telingaku, aku telah membisukan mulutku dan menjadikan dia suaraku, entah ia sadar atau tak sadar tentang itu semua yang aku tahu pasti dia malah memilih untuk pergi pada hari itu. Luka sayatan pun tercipta ketika pisau yang sangat indah berukirkan janji dan bernama cinta ia tarik ketika hatiku masih menggenggam pisau itu dan tak mau melepas. Mungkin baginya setelah hari itu kisah tentang aku dan dia telah berakhir dan dia pun tidak menyadari bahwa dia telah meniupkan garam ke lukaku yang masih basah ketika kabar tentang penggantiku telah dia ikrarkan. Paragraf ini adalah untuk dia. Paragraf ini adalah salah satu bau busuk yang keluar dari sampah ini. Tapi dia takkan pernah khawatir karna dia telah membuang sampah ini pada tempatnya.
Dia yang lain adalah cerita yang berbeda tapi mempunyai alur yang sama dan akhir yang sama hanya dengan durasi yang berbeda. Dia yang lain telah membuatku mengambil keputusan mencongkel luka lama untuk menanam namanya. Dan segala tingkah lakunya yang manja dan menyenangkan membuatnya tumbuh subur dan cepat di hati ini. Akar tunggangnya menancap dalam dan semakin dalam. Daun daunnya yang lebat meneduhkan hatiku. Namun pada akhirnya pun sama, ketika musim begitu kering daun-daunnya pun mulai kering dan dia pun tak ingin lagi tumbuh di hatiku. Pada suatu waktu, dia memelukku, dia menciumku tetapi ternyata dia memintaku untuk mencabut pohon yang akarnya tertancap dalam. Dengan segala keharusan, tanpa obat bius akupun mencabutnya dari detikku, menitku, jamku, hariku. Setelah kami berakhir ternyata angin tak menerbangkan dia jauh. Dia jatuh di sana dan tumbuh di sana, tak jauh, tak lebih jauh dari mata memandang. Aku dapat melihatnya tumbuh subur di sana. Aku dapat melihatnya padahal jika boleh memilih aku tak ingin melihatnya. Paragraf ini adalah untuk dia yang lain. Paragraf ini adalah salah satu noda kotor dari sampah ini. Tapi dia yang lain takkan pernah khawatir karna dia yang lain telah membuang sampah ini pada tempatnya.
Dia yang ketiga adalah kisah yang tak mampu dikisahkan. Huruf A-Z tak mampu kurangkai untuk mewakili bagaimana kisah bermula dan bagaimana berakhir. Semua karena ketidaksadaranku pada waktu cinta datang dan waktu cinta pergi. Hingga akhirnya aku merasakan kehilangan yang sama. Pada akhirnya aku melangkahkan kakiku pada tempatku kembali, tempat dimana sampah dibuang.
Bir aku tenggak setelah puas menarik garis lurus antara tulisan buanglah sampah pada tempatnya yang tertera di hadapanku dengan kehidupanku yang telah lalu. Aku adalah sampah tapi akupun juga pernah mempunyai sampah yang telah kubuang. Sampah akan selalu ada setelah kita menikmati sesuatu dan sampah akan selalu kita buang tanpa sentimentil apapun. Mencintai seseorang lalu menjadikan seseorang itu sampah atau dicintai lalu dijadikan sampah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar